Zi Lu bertanya, “Murid memberanikan diri bertanya hal setelah orang mati.” Dijawab, “Sebelum mengenal hidup, bagaimana mau mengenal hal setelah mati ?”
(Sabda Suci XI,12:2)
Dengan berdasarkan pada satu ayat diatas, banyak orang termasuk umat agama Khonghucu sendiri yang berpendapat bahwa ajaran Nabi Kong Zi adalah melulu tentang keduniawian dan tidak pernah membahas/mengajarkan tentang hal setelah kematian (after-life). Celakanya, pendapat yang tidak benar ini justru sering dijadikan ‘senjata pamungkas’ oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk ‘menjegal’ keberadaan Khonghucu sebagai agama.
Pertanyaan pertama yang harus dijawab oleh umat Khonghucu adalah : Benarkah Nabi Kong Zi tidak mengetahui atau tidak paham tentang hal setelah kematian sehingga beliau memang tidak bisa mengajarkan hal itu kepada murid-muridnya. Jika pertanyaan ini tidak terjawab, benarlah tuduhan bahwa ajaran Kong Zi itu hanya bersifat keduniawian dan tidak layak dianggap ‘agama’.
Sebelum menjawab pertanyaan ini, harus dikemukakan lebih dulu bahwa ayat diatas memang benar terdapat dalam kitab Sabda Suci (Lun Yu), tapi itu cuma setengah saja karena masih ada satu kalimat diatas sehingga lengkapnya berbunyi demikian :
1. Zi Lu bertanya bagaimana cara mengabdi kepada para Rokh. Kong Zi bersabda, “Sebelum mengabdi kepada manusia, bagaimana dapat mengabdi kepada para Rokh ?”
2. “Murid memberanikan diri bertanya hal setelah orang mati.” Dijawab, “Sebelum mengenal hidup, bagaimana mau mengenal hal setelah mati ?”
Perhatikan bahwa kalimat pertama dan kedua mempunyai nalar logika yang sama. Pada kalimat pertama, ketika Zi Lu menanyakan sesuatu hal yang ‘jauh’ {yakni mengabdi kepada Rokh}, Kong Zi menyadarkan sang murid agar lebih dulu menguasai hal yang ‘dekat’ {yakni mengabdi kepada manusia}. Nalar yang sama berlaku pada kalimat kedua yakni ketika Zi Lu menanyakan tentang hal setelah mati {yang ‘jauh’ karena belum dijalani}, Kong Zi memberikan jawaban yang sama yakni harus mengenal hidup lebih dulu {yang lebih ‘dekat’).
Percakapan diatas adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam arti dua pertanyaan Zi Lu ini terjadi pada satu kesempatan bertanya pada sang Guru. Untuk dua pertanyaan ini, Kong Zi sebenarnya memberikan satu jawaban yang sama yakni : “Jalan Suci seorang Junzi (Susilawan) itu seumpama hendak pergi ke tempat yang jauh, maka yang pertama-tama harus dilakukan adalah mulai menempuh jarak yang terdekat, seumpama mendaki tempat yang tinggi, maka yang pertama-tama harus dilakukan adalah mulai mendaki dari bawah.” (Tengah Sempurna XIV.1) Jadi kalimat pertama tidak bisa dihilangkan begitu saja sebab bisa merancukan arti jawaban kedua.
Adapun orang yang menyimpulkan bahwa Nabi Kong Zi tidak mengetahui atau tidak paham tentang hal setelah kematian sehingga beliau memang tidak bisa mengajarkan hal itu kepada murid-muridnya, maka ini pasti karena orang ini hanya mengutip kalimat kedua tanpa memperhatikan kalimat pertama.
Mengapa kesimpulan ini rancu ? Karena jika kalimat “Sebelum mengenal hidup, bagaimana mau mengenal hal setelah mati ?” diartikan Kong Zi tidak paham akan hal setelah kematian, maka kalimat “Sebelum mengabdi kepada manusia, bagaimana dapat mengabdi kepada para Rokh ?” harus pula diartikan bahwa Kong Zi tidak paham akan hal mengabdi kepada para Rokh. Jelas ini salah besar ! Dalam banyak ayat disebutkan bagaimana Kong Zi menghormati Rokh tapi dari jauh (Sabda Suci VI.22) dan menolak menghormati Rokh yang tidak semestinya disembah karena itu sama dengan menjilat (Sabda Suci II.24). Ini membuktikan bahwa Kong Zi walaupun memahami tentang ‘mengabdi kepada Rokh’ tapi dia tetap tidak/belum mau menjelaskannya pada Zi Lu (dalam jawaban pada kalimat pertama).
Jadi jika kemudian dalam pertanyaan kedua, Kong Zi lagi-lagi tidak/belum mau menjelaskan perihal setelah kematian, itu tidak bisa disimpulkan bahwa Beliau tidak paham akan hal itu.
Tuduhan pertama bisa dipatahkan, tapi mungkin belum tuntas karena muncul tuduhan baru : “Pembelaan diatas tidak serta merta membuktikan bahwa Kong Zi memahami hal akan kematian !”
Jawaban terhadap serangan kedua ini sebenarnya banyak terdapat dalam Kitab Suci Li Ji (Catatan Kesusilaan) yang menjelaskan arti filosofis dari upacara pemakaman, bagi yang mau berpikir lebih berat bisa membaca artikel Alm. Prof. Lee T. Oei berjudul ‘Perihal Dosa dan Neraka Menurut Iman dan Fikiran Konfuciani’ juga ‘Perihal Kematian dan Rokh Menurut Iman dan Pikiran Konfuciani’. Disini Prof. Lee T. Oei melakukan bedah buku kuno dan membuktikan bahwa pada masa hidup Nabi Kong Zi telah dikenal adanya konsep kehidupan setelah kematian.
Yang menjadi pertanyaan menarik adalah Jika Nabi Kong Zi sudah pasti mengenal tentang konsep afterlife ini, mengapa beliau tidak pernah menjabarkan atau mengkomentari sedikit saja tentang konsep ini ?
Tidak sedikit pakar agama Khonghucu yang mengajukan beberapa alasan kuat tentang hal ini, antara lain :
1. Kong Zi mengajar dan menjawab murid-muridnya sesuai dengan kemampuan sang murid sehingga jawaban untuk satu pertanyaan yang sama bisa berbeda disesuaikan dengan kemampuan si murid yang bertanya. Kong Zi bersabda, “Seorang yang pengetahuannya sudah melampaui tingkat pertengahan, bolehlah diajak membicarakan hal-hal yang tinggi. Seorang yang pengetahuannya masih di bawah tingkat pertengahan, tidak boleh diajak membicarakan hal-hal yang tinggi.” (Sabda Suci VI.21) Kita tahu bahwa Zi Lu adalah murid yang tangkas sehingga kegesitannya perlu ‘ditahan’ oleh Nabi Kong Zi. Tapi ini belum menjawab pertanyaan : Mengapa Kong Zi tidak pernah menjabarkan afterlife ini kepada murid yang lain ?
2. Zi Gong pernah berkata, “Ajaran Guru tentang kitab-kitab, dapat kuperoleh dengan cara mendengar; Tetapi Ajaran Guru tentang Watak Sejati dan Jalan Suci Tian, tidak dapat kuperoleh dengan hanya mendengar saja.” (Sabda Suci V, 13). Berdasarkan dari sini, para cendekiawan agama Khonghucu telah melakukan ‘bedah buku’ terutama kitab Li Ji dan Yi Jing seperti yang dilakukan Alm. Prof Lee T. Oei untuk menunjukkan bahwa agama Khonghucu mengenal konsep afterlife. Tapi tetap saja hal ini tidak memuaskan semua pihak karena konsep-konsep ini tidak secara tegas dikatakan oleh Nabi Kong Zi !
3. Seperti telah disebutkan diatas, ajaran Kong Zi itu mempunyai suatu nalar logika yang jelas dan tidak melompat-lompat. Kitab Ajaran Besar (Da Xue) bahkan dengan tegas menyebutkan : “Karena itu dari Raja sampai rakyat jelata, semua mempunyai satu kewajiban yang sama, yaitu mengutamakan pembinaan diri sendiri sebagai pokok (dasar) dari pelaksanaan Jalan Suci. Adapun pokok yang kacau itu tidak pernah menghasilkan penyelesaian yang teratur baik … Jikalau dikatakan pokok yang kacau akan dapat membuat dunia menjadi damai, maka hal itu belum pernah terjadi. (Ajaran Besar Utama.6-7). Alasan ketiga inilah yang paling sering digunakan oleh umat KHC sehingga muncul kalimat ‘Agama Khonghucu membangun Jalan Kemanusiaannya dengan berdasarkan pada Jalan Keilahian’. Berbeda dengan agama lain yang lebih menekankan Jalan KeTuhanannya tapi mengabaikan Jalan Kemanusiaannya.
Ketiga alasan diatas, walaupun cukup kuat tapi belum memuaskan para penyerang agama Khonghucu. Yang paling termasyhur menyerang ini adalah Hong Xiuquan, pemimpin pemberontak Taiping beragama Kristen dengan pengakuannya : “Aku bermimpi Kong Zi datang kepadaku sambil menangis karena menyesal tidak mengajarkan ajaran afterlife seperti yang diajarkan agama Kristen.” Hong Xiuquan bahkan tak segan-segan mengklaim diri sebagai Adik Yesus Kristus. Ini menunjukkan begitu fanatiknya Hong Xiuquan terhadap agama Kristen sehingga berani menyerang agama Khonghucu !
Jadi benarkah Nabi Kong Zi telah beliau lalai atau lupa mengajarkan afterlife seperti tuduhan Hong Xiuquan ? Perlukah Agama Khonghucu yang sekarang ini ‘menambahkan’ konsep after-life ini agar layak disejajarkan dengan agama lain ? Ataukah cukup puas membela diri dengan 2 alasan diatas karena tidak bisa menjawab serangan dari Hong Xiuquan ?
Uraian dibawah ini akan membeberkan bukti sejarah bahwa dengan tidak menguraikan konsep Afterlife ini, Nabi Kong Zi justru telah menjadikan agama Khonghucu sebagai doktrin yang unggul.
Setelah Agama Khonghucu disahkan menjadi agama negara pada masa dinasti Han (202 SM – 220 M), praktis perkembangannya mengalami ‘stagnasi’ karena dianggap sebagai doktrin superior diatas doktrin-doktrin agama yang lain. Agama Buddha memasuki Tiongkok dengan membawa serta konsep afterlife tentang ‘Surga dan Neraka’ yang berlapis-lapis lengkap dengan alat siksaan sebagai penebus dosa. Tidak ada seorang umat Buddha di dunia ini yang tidak mengenal tentang konsep Surga dan Neraka ini.
Setelah memasuki Tiongkok, agama Buddha harus menerima pengaruh agama Khonghucu dan agama Tao yang merupakan agama asli Tiongkok. Pengaruh agama Khonghucu yang ‘mengutamakan rakyat’ telah menyebabkan aliran Buddhisme Mahayana berkembang pesat dan mendapat banyak pengikut di kalangan rakyat.
Dewasa ini agama Buddha dengan konsep after-lifenya (termasuk paham Reinkarnasi) boleh saja mengklaim telah mempengaruhi seluruh rakyat Tiongkok secara mendalam. Tapi benarkah konsep after-life Buddha ini telah mencapai kemenangan mutlak (baca : mengisi kekosongan konsep yang tidak diuraikan oleh Nabi Kong Zi) ?
Ketika agama Buddha mencapai jaman keemasan di masa pemerintahan Raja Liang Wu Di, justru muncul gerakan baru dalam tubuh agama Buddha yakni munculnya aliran Buddhisme baru : Chan (di Jepang dan di Indonesia lebih dikenal sebagai Zen). Hampir mustahil jika dikatakan bahwa Guru Zen ini tidak mengenal konsep afterlife agama Buddha dengan surga dan nerakanya.
Tapi ketika ada orang bertanya kepada seorang Guru Zen (yang sudah pasti diakui keTokohannya) tentang hal setelah kematian, sang Guru Zen menyahut : “Mana saya tahu ? Saya kan belum pernah mati !”
Jawaban seperti ini sering dipuji sebagai jawaban yang ‘berfilosofi dalam dan mencerahkan’ tapi jika dibandingkan dengan jawaban Nabi Kong Zi kepada Zi Lu manakah yang lebih dalam dan mencerahkan ? Apakah ada yang berani mengatakan bahwa Guru Zen ini ‘lalai’ karena tidak menjabarkan perihal konsep afterlife ?
Guru Zen yang lain justru menyadarkan murid-muridnya dengan cara ‘membolak-balik’ konsep afterlifenya sendiri. Ketika ditanya kemana dia setelah mati, sang Guru Zen malah menjawab bahwa dia akan masuk neraka ! Ketika murid-muridnya merasa heran dan menanyakan sebabnya, sang Guru Zen menyahut, “Jika saya tidak masuk neraka, lalu siapa yang akan menolong kalian (keluar dari neraka) !”
Adalah menarik untuk menelaah mengapa aliran Buddhisme Zen ini justru ‘menolak’ atau ‘mengabaikan’ konsep afterlife mereka yang sudah baku, tapi mengambil sikap ‘acuh’ atau ‘lalai’ seperti yang dilakukan Nabi Kong Zi ribuan tahun sebelumnya.
Sejarah mencatat Raja Liang Wu Di adalah ‘Pelindung Agama Buddha’ di Tiongkok yang terbesar. Dia banyak mendirikan vihara-vihara, menyumbangkan banyak harta bagi pengembangan agama Buddha dan semua itu dilakukannya secara tulus untuk mendapatkan pahala di Surga. Saat itulah Bodhidharma datang ke Tiongkok dan kemudian ‘mendirikan’ aliran Buddhisme Zen.
Tiongkok saat itu telah dipenuhi konsep afterlife versi agama Buddha sehingga semua orang (bahkan raja) berlomba untuk berbuat kebaikan agar mendapat pahala dan menghindari berbuat dosa untuk menghindari neraka. Justru di tengah hiruk pikuk kegairahan untuk mendapatkan tiket ke ‘surga’ itulah, konsep afterlife dengan Surga dan Neraka ini mulai menunjukkan kelemahannya.
Kejadian ini mungkin bisa kita lihat saat ini di negeri kita sendiri, Indonesia. Setelah mengenal ajaran tentang ‘Surga dan Neraka’, hampir semua agama menjadikan ‘surga dan neraka’ ini sebagai tujuan utama ajaran mereka. Setiap orang yang mengaku beragama ‘saling bersaing’ berbuat kebaikan dengan harapan bisa ‘masuk surga’ (seperti disebutkan diatas, antara lain rajin ke tempat ibadah, menyumbang banyak-banyak dengan harapan ‘mencicil’ rumah di surga). Diakui atau tidak, perbuatan baik yang disertai dengan harapan balas jasa ini juga dianut oleh raja dan pemimpin agama saat itu.
Tapi Bodhidharma bukannya memuji kebaikan yang dilakukan oleh Raja Liang Wu Di bahkan mengkritiknya secara tegas.
Di Eropa sendiri sebagai pusat agama Nasrani, Paus sebagai pemimpin agama Nasrani sampai hati menjual ‘surat pengampunan dosa’ demi mendapatkan sejumlah dana. Hal ini sendiri menimbulkan gerakan protes yang luar biasa sehingga timbullah agama Kristen Protestan !
Dalam agama Islam sendiri, konsep afterlife sering digunakan sebagian pemimpin umat untuk membenarkan ajakan ‘berjihad’ dengan iming-iming ‘surga’ dan dengan sendirinya melupakan ajaran Nabi Muhammad SAW yang menegaskan Islam adalah agama pembawa kedamaian.
Dalam keadaan seperti ini, apakah ajaran afterlife tentang ‘surga dan neraka’ masih berguna bagi umat manusia di seluruh dunia ? Perhatikan dengan seksama bahwa pada masa seperti ini ‘Surga dan Neraka’ bukan lagi berada dibawah kekuasaan Tian Yang Maha Esa, melainkan berada dibawah keputusan pemimpin agama yang sewenang-wenang (dalam menentukan umatnya masuk surga atau neraka) ! Pada titik ini, barulah dapat dipahami mengapa konsep ‘after-life’ tidak pernah menjadi bagian yang begitu penting dan dominan dalam ajaran Nabi Kong Zi.
Jika agama Buddha memerlukan waktu ratusan tahun untuk menyadari kelemahan konsep afterlife ini dan membutuhkan kehadiran tokoh kuat seperti Bodhidharma untuk meluruskan hal ini, Nabi Kong Zi bahkan telah melakukannya ribuan tahun sebelumnya, jadi jelas bahwa beliau tidak lalai/lupa. Seperti kata Zi Gong, “Ajaran Kong Zi tidak akan tercela. Kebijaksanaan orang-orang lain boleh diumpamakan sebagai bukit yang dapat dijelajahi dan dilewati.
Sedangkan Ajaran Kong Zi adalah laksana matahari dan bulan yang tidak dapat diraih dan dijamah. Meskipun orang mencela, dapatkah ia merusakkan matahari dan bulan ? Hal ini hanya menunjukkan ia tidak mengenal kemampuan diri sendiri.” (Sabda Suci XIX.24), maka serangan yang dilakukan oleh Hong Xiuquan menunjukkan seberapa tinggi pemahamannya terhadap agama Khonghucu itu sendiri.
Jadi terjawab tuntas bahwa Tidak Perlu menambahkan konsep afterlife atau ‘Surga dan Neraka’ dalam buram Agama Khonghucu karena itu ibarat ‘menambahkan kaki pada gambar ular’.
Akan muncul pertanyaan pamungkas, “Tidak menjelaskan afterlife secara tegas {dengan konsep ‘surga dan neraka’} bukan berarti agama Khonghucu lebih unggul dari agama lain. Dengan apa agama Khonghucu mengajarkan manusia untuk berbuat baik jika tidak dengan konsep afterlife ?” Saya bahkan pernah mendengar lagu Chrisye yang berbunyi demikian : “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah engkau akan memujaNya ?
Inilah penjelasan pamungkas sekaligus menunjukkan keunggulan agama Khonghucu dibandingkan yang lain. Jika agama lain mungkin akan membenarkan syair dalam lagu Chrisye diatas, tapi agama Khonghucu menjawab :
1. Kong Zi bersabda, “Dibimbing dengan Undang-Undang dan dilengkapi dengan hukuman / sanksi, semua itu akan menjadikan rakyat hanya berusaha menghindari itu dan kehilangan perasaan harga diri.”
2. “Dibimbing dengan Kebajikan dan dilengkapi dengan Kesusilaan, semua ini akan menjadikan rakyat tumbuh perasaan harga dirinya dan senantiasa berusaha hidup benar.” (Sabda Suci II.3)
Surga dan Neraka tak ubahnya seperti Undang-Undang yang dilengkapi dengan hukuman dan sangsi. Raja Liang Wu Di berpikir dengan membangun tempat ibadah dan menyumbang amal dia bisa memperoleh tiket surga maupun mengurangi dosa. Maka dikatakan ‘rakyat hanya berusaha menghindari (hukuman dan sanksi) dan kehilangan perasaan harga diri (melakukan apa saja untuk bisa ‘membeli’ kebaikan)’.
Agama Khonghucu lain daripada yang lain. Tanpa diancam dengan dosa, kehancuran, hukuman ataupun akhir dunia, Nabi Kong Zi membimbing dengan Kebajikan dilengkapi dengan Kesusilaan, mengajarkan umat manusia untuk menyadari Watak Sejati sehingga senantiasa berusaha benar {sesuai Jalan Suci}. Inilah inti ajaran agama Khonghucu.
Adakah ajaran lain yang lebih mulia dan lebih unggul dari ajaran Nabi Kong Zi ? Layaklah bila Meng Zi berujar, “Sejak adanya manusia sampai saat ini, belum ada yang dapat dibandingkan dengan Kong Zi !” 自有生民以來﹐未有孔子也。(Meng Zi IIA.2:23)
Kini terserah kepada pembaca untuk menjawab, “Ketiadaan konsep ‘surga dan neraka’ dalam konsep afterlife milik agama Khonghucu {yang dilakukan dengan sengaja} ini merupakan Kelemahan atau justru Keunggulan Agama Khonghucu ?”
Sugiaman Gonassis
Mungkin John Lennon ( the Beatles ) ada benarnya dengan menciptakan lagu Imagine: ....imagine if there is no religion...
Klo mau jujur John Lennon muak dengan semua orang yg mengaku beragama tetapi saling bunuh, korupsi, merusak alam dll
![]()








0 comments:
Post a Comment